Peristiwa Yang Terjadi Sebelum, Sesaat, dan Sesudah Rasulullah SAW Wafat

1
328
foto : istimewa

CIREBONMU, Bandung — Ada beberapa peristiwa penting sebelum, sesaat, dan sesudah Rasulullah SAW wafat meninggalkan umat yang sangat dicintainya.

Menjelang kepergian Rasulullah SAW muncul berbagai pertanda dari ucapan ataupun tindakannya. Peristiwa itu tentu sangat terlihat oleh keluarga, sahabat, dan umat Rasulullah SAW pada saat itu.

Mengutip buku “The Great Prophet Muhammad: Meneladani Manusia Pilihan Allah”, berikut rangkuman peristiwa tersebut.

Iktikaf tidak biasanya

Dikisahkan bahwa tidak seperti biasanya Rasulullah SAW iktikaf selama 20 hari pada Ramadan 10 Hijriyah. Iktikaf yang Rasulullah SAW lakukan biasanya hanya 10 hari. Malaikat Jibril juga menguji Al-Quran dari beliau sebanyak 2 kali.

Rasulullah SAW sakit

Senin 29 Safar 11 Hijriyah suhu badan Rasulullah SAW sangat panas. Beliau sakit sekitar 14 hari. Selamat sakit beliau tetap melakukan salat berjamaah sebanyak 11 hari.

Namun, dari hari ke hari panas badan nabi akhir zaman ini semakin tinggi. Saat berada di masjid, Rasulullah SAW berpesan agar jangan menjadikan kuburannya sebagai masjid.

Rasulullah SAW pingsan

Rasulullah SAW masih mampu mengimami salat. Namun, ketika hendak mengimami salat isya, Rasulullah SAW pingsan hingga 3 kali. Setelah sadar beliau meminta Abu Bakar untuk menjadi imam.

Hari berikutnya Rasulullah SAW berangkat ke masjid dengan dipapah. Mengetahui hal itu Abu Bakar pun mundur begitu melihat nabi. Namun, Rasulullah SAW meminta Abu Bakar untuk melanjutkan.

Memerdekan budak

Sehari menjelang wafat, Rasulullah SAW memerdekakan para pembantu laki-lakinya, menyedekahkan dinarnya, dan memberikan senjata miliknya kepada orang-orang Islam.

Sakit makin parah

Saat jamaah salat subuh diimami Abu Bakar, Rasulullah SAW datang. Mereka bermaksud menghentikan salat karena mengira Rasulullah SAW sudah kembali sehat.

Namun, beliau memberi isyarat agar mereka menyelesaikan salat. Kemudian Rasulullah SAW pun kembali ke kamarnya.

Saat waktu dhuha Rasulullah SAW memanggil Fatimah. Rasulullah SAW juga memanggil kedua cucunya dan seluruh istrinya. Beliau menasehati mereka.

Sakit Rasulullah SAW semakin parah. Selain itu, pengaruh racun yang disusupkan wanita Yahudi saat di Khaibar makin terasa. Rasulullah SAW menceritakan rasa sakitnya pada Aisyah seakan-akan nadinya terputus akibat racun itu.

Bersiwak terakhir

Tubuh Rasulullah SAW yang sakit berada di pangkuan Aisyah. Abdurrahman bin Abu Bakar masuk menemui Rasulullah SAW sambil memegang siwak.

Nabi SAW melirik siwak. Aisyah menawarinya untuk bersiwak. Beliau mengangguk. Aisyah kemudian membantunya bersiwak.

Usai bersiwak Nabi SAW mengangkat jari-jarinya mengarahkan pandangan ke langit-langit rumah. Bibirnya bergetar memohon ampunan dan meminta bertemu dengan Kekasih yang Mahatinggi.

Nabi SAW mengulang doa itu hingga tiga kali. Akhirnya doanya dikabulkan Allah SWT yang menjemputnya tepat pada Senin 12 Rabiul Awal 11 Hijriyah.

Nabi yang perangai dan perkataannya lembut ini akhirnya mengembuskan napas terakhir dalam pangkuan istri tercinta Aisyah.

Alam semesta berduka

Berita kepergian Rasulullah SAW begitu cepat menyebar ke seluruh Madinah. Masyarakat ketika itu seakan-akan tidak percaya bahwa nabi terkasih telah wafat untuk kembali ke hadapan Allah SWT.

Anas bin Malik menggambarkan tidak ada hari yang lebih terang di Madinah selain hari ketika pertama kali Rasulullah SAW tiba. Dan tidak ada hari yang lebih buruk dan muram selain hari ketika rasulullah wafat.

Pelukan Abu Bakar

Abu Bakar menunggangi kuda menuju Masjid Nabawi. Dia menemui Aisyah lalu mendekati jasad Rasulullah SAW. Dia memeluk jasad itu sambil menangis.

Sementara itu Umar bin Khattab berteriak di sekitar masjid hingga terdengar sampai ke kamar Aisyah tempat jasad Rasulullah SAW berada.

Umar mengatakan orang yang beranggapan Rasulullah SAW meninggal harus dihukum. Rasulullah SAW tidak meninggal, tetapi hanya bertemu Tuhan seperti yang dilakukan Nabi Musa AS ketika meninggalkan kaumnya selama 40 hari.

Tak lama kemudian Abu Bakar keluar dari kamar Aisyah. Dia menyuruh Umar agar duduk. Namun, Umar menolak permintaannya.

Penegasan Abu Bakar

Orang-orang lalu mengerubungi Abu Bakar. Kemudian Abu Bakar mengatakan bahwa jika kalian menyembah Muhammad SAW, maka sungguh Muhammad SAW telah meninggal. Jika kalian menyembah Allah SWT, maka Dia selalu hidup dan takkan pernah mati.

Lalu abu bakar membaca surah Ali Imran ayat 144:

“Dan Muhammad hanyalah seorang Rasul, sebelumnya telah berlalu beberapa rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa berbalik ke belakang, maka ia tidak akan merugikan Allah sedikit pun. Allah akan memberi balasan kepada orang yang bersyukur.”

Gejolak di Saqifah Bani Saidah

Setelah mengetahui Rasulullah SAW wafat, umat Islam berpencar-pencar dalam keadaan sedih dan bingung. Sekelompok kaum Anshar hendak membaiat Saad bin Ubadah sebagai khalifah.

Abu Bakar dan Umar bin Khattab segera menemui mereka. Abu Bakar begitu bijak memuji keistimewaan kaum Anshar dan juga kaum Muhajirin yang telah dipersatukan dalam persaudaraan Islam. Lalu dia membaca surah At-Taubah ayat 100.

Salah seorang Anshar mengusulkan agar Anshar dan Muhajirin memilih pemimpin masing-masing. Namun, tampaknya usulan itu membuat suasana makin memanas.

Percikan konflik

Abu Ubaidah bin Al Jarrah mengatakan kaum Anshar yang menjadi pelindung Islam janganlah berubah dan berpaling.

Basir bin Saad yang berada yang berasal dari Anshar mengatakan bahwa kebaikan Anshar selama ini semata-mata karena Allah.

Maka dalam urusan pemilihan ini janganlah berbelit-belit. Dia mengatakan Rasulullah SAW berasal dari kaum Quraisy maka sebaiknya penggantinya pun dari kaumnya.

Akhirnya kaum Anshar berlapang dada. Kemudian Abu Bakar mengusulkan untuk membaiat Umar atau Abu Ubaidah. Namun, usulan Abu Bakar itu tidak direspons orang-orang.

Melihat kondisi tersebut, Umar pun berinisiatif agar Abu Bakar mengulurkan tangannya. Abu Bakar mengulurkan tangan dan Umar membaiatnya. Semua yang hadir turut membaiat.

Maka dari sejak saat itu sahabat senior sekaligus mertua Rasulullah SAW, yakni Abu Bakar, didaulat menjadi khalifah pertama setelah wafatnya sang nabi.

Memandikan jenazah Rasulullah SAW

Ketika hendak memandikan jenazah Rasulullah SAW, para sahabat berselisih tentang bagaimana memandikan jenazah beliau.

Apakah harus membuka pakaian beliau sebagaimana biasa dilakukan atau tidak dengan melepas pakaian beliau.

Allah SWT menjadikan para sahabat tertidur. Saat tertidur mereka bermimpi ada seorang yang tidak mereka kenal muncul dari sudut rumah sambil berkata agar memandikan jenazah nabi tanpa melepas pakaiannya.

Jenazah Rasulullah SAW pun dimandikan pada Selasa pagi. Orang yang memandikan adalah Al Abbas, Ali bin Abu Thalib, Alfadhal dan Qostam (keduanya anak Abbas, dan Syuqran (pembantu Rasulullah SAW), Usamah bin Zaid, dan Aus bin Khaily.

Mengkafani dan menshalati

Mereka mengkafani jasad Rasulullah SAW dengan kain putih dari bahan katun tanpa menggunakan pakaian dan tutup kepala.

Kemudian umat Islam menyalatkan Rasulullah SAW secara bergantian per sepuluh orang dengan urutan istri Rasulullah SAW, keluarganya, Muhajirin, Anshar, muslimin lainnya, dan anak-anak.

Memakamkan manusia pilihan

Nabi Muhammad SAW mengembuskan napas terakhir di kamar Aisyah. Saat jenazah hendak dikuburkan, para sahabat berbeda pendapat dalam menentukan lokasi pemakamannya.

Ada sahabat yang berpendapat jenazah dimakamkan di masjid. Ada sahabat lain berpendapat bahwa nabi dimakamkan bersama sahabatnya di pemakaman Baqi.

Untuk menyelesaikan perbedaan pendapat itu, Abu Bakar menyampaikan sebuah hadis yang pernah didengarnya dari Rasulullah SAW bahwa setiap nabi yang meninggal dimakamkan di tempat dia meninggal. Maka Nabi SAW pun dimakamkan di kamar Aisyah.

Antara syaq dan lahad

Ketika hendak menggali kuburan para sahabat berbeda pendapat lagi dalam menentukan model kuburan. Ada dua model kuburan yang dikenal para sahabat yaitu syaq dan lahad.

Kini Umar bin Khattab turun tangan. Dia menyarankan para sahabat untuk langsung memanggil pakarnya. Para sahabat pun segera mengirimkan utusan untuk mencari dua pakar model syaq dan lahad.

Ternyata utusan hanya dapat bertemu dengan Abu Thalhah pakar model lahad. Para sahabat menyimpulkan bahwa Allah SWT memilihkan model lahad untuk Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW pun dikuburkan pada Selasa malam. Ali bin Abi Thalib dan Fadhal Qatsam bin Abbas serta Syaqran adalah tim yang menguburkan Rasulullah SAW.(CM)

Sumber : BANDUNGMU.COM

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini