Ini Dasar Muhammadiyah Tentukan Awal Ramadhan Gunakan Hisab

0
118
Prof. Dr. Abdul Mu'ti, M.Ed., Sekretaris Umum PP Muhammadiyah

CIREBON, SC .- Persoalan i’tilaf atau perbedaan pendapat tentang memulai ibadah puasa Ramadhan bersumber dari cara memaknai Ru’yah (ru’yat). Pasalnya, sebagian kaum muslimin memaknai ru’yah dengan ru’yah bil aini atau melihat dengan mata telanjang.

Hal itu dikemukakan Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed, dalam tausiah Pengajian Qabla Ramadhan yang diselenggarakan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Cirebon di Masjid Teja Suar Jalan Tuparev, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Cirebon, Ahad (27/3/2022).

Menurutnya, Rasulallah dan para sahabat memang menentukan awal dan akhir Ramadhan dengan cara melihat bulan (ru’yat) secara langsung. Sehingga, lanjut dia, di beberapa kitab fikih ditemukan riwayat dimana saat Nabi SAW dan para sahabat masih berpuasa, ada salah satu sahabat yang bersaksi telah melihat bulan sehingga Nabi SAW meminta agar ibadah puasa dibatalkan (karena telah masuk 1 Syawal, red).

Mu’ti menuturkan, ada penjelasan hadits yang menjadi qorinah atau dasar argumen mengapa Nabi dan para sahabat itu melihat langsung hilal.

“Sebagian berpendapat melihat langsung itu merupakan sunnah, tetapi menurut Muhammadiyah melihat langsung itu bukan sunnah, tetapi itu bagian dari tata cara pelaksanaan karena pada waktu (zaman, red) itu belum ada ilmu atau teknologi bagaimana melihat hilal secara akurat,” katanya.

“Ada hadits yang tidak begitu populer yang artinya kami ini adalah umat yang ummi, kami ini tidak pandai menulis dan juga tidak bisa berhitung. Bulan itu begini dan begini sambil Nabi menunjukkan jari jarinya. Kadang-kadang 29 hari, kadang-kadang 30 hari,” imbuhnya.

Karenanya, lanjut dia, jika Nabi SAW tidak menggunakan ilmu hisab karena ilmu hisab belum ada pada waktu itu.

“Sehingga qorinah menggunakan (ilmu) hisab itu juga didukung oleh firman Allah surat Yunus ayat 5 yang artinya Dialah (Allah) yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan Dialah yang menetapkan tempat-tempat orbitnya, agar kamu mengetahui bilangan tahun, dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan demikian itu melainkan dengan benar. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui,” tuturnya.

Maka itu, menurutnya, manusia yang mengerti manajiil (orbit) matahari, bulan dan bumi itulah yang mampu menciptakan kalender, mencipatakan hitungan-hitungan waktu.

“Karena itu berdasarkan qorinah ayat Yunus ayat 5 ini, menggunakan hisab itu bukan bid’ah. Ada perintahnya, tetapi memang Nabi belum melaksanakannya,” ujarnya.

Hal itu karena, yang terkait dengan agama itu memang ada yang di zaman Nabi sudah dilaksanakan dan ada yang belum dilaksanakan, terutama dalam hal-hal teknis suatu ibadah

“Analogi secara kias perintah sholat harus dilaksanakan dalam waktu-waktu tertentu. Saat ini penentuan waktu sholat tidak lagi melihat matahari secara langsung tetapi bisa berdasarkan hitungan (hisab) bahkan bisa ditentukan waktu sholat hingga ratusan tahun ke depan,” katanya.

Terkait penentuan awal Ramadhan tahun ini, dirinya mengimbau agar warga Muhammadiyah tetap menjaga kemungkinan adanya perbedaan dengan penetapan awal Ramadhan pemerintah.

“Insyaalah dalam penentuan awal Ramadhan, kita (Muhammadiyah) mungkin mendahului, karena pemerintah mulai tahun ini menggunakan Imkarun Rukyat dimana kalau posisi hilal sudah 3 derajat, sementara tadi hasil hisab Muhammadiyah posisi hilal berada hanya sedikit di atas 2 derajat,” tuturnya.

Menurut Mu’ti dengan adanya ketetapan pemerintah tersebut, dimungkinkan ada perbedaan awal Ramadhan antara Muhammadiyah dan pemerintah. “Sebenarnya 2 derajat itu hilal sudah terlihat, hanya keterbatasan kita yang belum bisa melihat hilal. Tidak apa-apa berbeda yang penting kita beribadah itu punya hujjah. Dan kita memiliki hujjah yang kuat saat menentukan awal Ramadhan,” tegasnya. (CM01) 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini